Seni Budaya Hindu Budha Di Indonesia
Seperti bagian Asia Tenggara, Inonesia tampaknya telah sangat dipengaruhi oleh India dari abad pertama masehi. Pulau-pulau Sumatra dan Jawa di Indonesia barat kursi kerajaan Sriwijaya abad ke 13 Masehi, yang datang untuk mendominasi sebagian besar daerah sekitar semenanjung Asia Tenggara melalui kekuatan maritime. Kerajaan Sriwijaya telah mengadopsi Mahayana dan Vajrayana, dibawah garis penguasa bernama Sailendras. Sriwijaya menyebarkan seni Budha Mahayana selama ekspansinya ke semenanjung Asia Tenggara. Banyak patung Mahayana Bodhisattva dari periode ini di tandai dengan perbaikan yang sangat kuat dan kecanggihan teknis yang di temukan seluruh wilayah.
Wujud Akulturasi Kebudayaan Hindu-Budha dengan Kebudayaan Indonesia
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya
Hal ini berarti kebudayaan Hindu – Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima seperti apa adanya, tetapi diolah, ditelaah dan disesuaikan dengan budaya yang dimiliki penduduk Indonesia, sehingga budaya tersebut berpadu dengan kebudayaan asli Indonesia menjadi bentuk akulturasi kebudayaan Indonesia Hindu – Budha.
Wujud akulturasi unsur-unsur budaya :
1. Bahasa
Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat Anda temukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu – Budha pada abad 5 – 7 M, contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 – 13 M. Untuk aksara, dapat dibuktikan adanya penggunaan huruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi) dan huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui Prasasti Dinoyo (Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno.
2.Religi/Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme.
Dengan masuknya agama Hindu – Budha ke Indonesia, masyarakat Indonesia mulai menganut/mempercayai agama-agama tersebut. Agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain mengalami Sinkritisme. Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu. Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan agama Hindu – Budha yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaaan-perbedaan tersebut. Contohnya, upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di India.
3.Organisasi Sosial Kemasyarakatan
Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat dalam organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh India.
Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun temurun.
Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah di Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan R Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harhari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).
Pemerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti yang terjadi di kerajaan Majapahit, pada waktu pengangkatan Wikramawardana.Wujud akulturasi di samping terlihat dalam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.
Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu terdiri dari kasta Brahmana (golongan Pendeta), kasta Ksatria (golongan Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang) dan kasta Sudra (golongan rakyat jelata).
Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama persis dengan kasta-kasta yang ada di India karena kasta India benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian, karena di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
4.Sistem Pengetahuan
Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu perhitungan waktu berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu. Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun sebagai contoh misalnya tahun saka 654, maka tahun masehinya 654 + 78 = 732 M
Di samping adanya pengetahuan tentang kalender Saka, juga ditemukan perhitungan tahun Saka dengan menggunakan Candrasangkala. Candrasangkala adalah susunan kalimat atau gambar yang dapat dibaca sebagai angka. Candrasangkala banyak ditemukan dalam prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan menggunakan kalimat bahasa Jawa salah satu contohnya yaitu kalimat Sirna ilang kertaning bhumi apabila diartikan sirna = 0, ilang = 0, kertaning = 4 dan bhumi = 1, maka kalimat tersebut diartikan dan belakang sama dengan tahun 1400 saka atau sama dengan 1478 M yang merupakan tahun runtuhnya Majapahit .
5.Peralatan Hidup dan Teknologi
Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India, karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak, yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut. Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dewi Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka.
Di samping itu, dalam bahasa kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya yang dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan terhadap dewa Syiwa.
Hindu di Indonesia, juga dikenal dengan formal bahasa Indonesia nama Agama Hindu Dharma, mengacu pada Hindu seperti yang dipraktikkan di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh 93% dari penduduk Bali , tapi juga di Sumatera , Jawa (terutama oleh masyarakat Tengger orang-orang di timur), Lombok dan Kalimantan. Hanya sekitar 3% penduduk Indonesia secara resmi Hindu. Di Jawa khususnya, sejumlah besar umat Islam mengikuti-ortodoks, yang dipengaruhi Hindu bentuk non Islam umumnya dikenal sebagai Kejawen / Agama DKI dan abangan Islam. Setiap warga negara Indonesia diwajibkan untuk menjadi anggota terdaftar dari salah satu dari enam mengakui komunitas religius ( Islam , Kristen [yaitu Protestan atau Katolik ], Hindu , Buddha dan Konghucu ). Terinspirasi oleh masa lalu Hindu Jawa, beberapa ratus ribu Jawa dikonversi menjadi Hindu di tahun 1960-an dan 1970-an. Ketika para penganut agama-agama etnis Aluk To Dolo (Sa'dan Toraja) dan Kaharingan (Ngaju, Luangan) mengklaim pengakuan resmi dari tradisi mereka, Departemen Agama diklasifikasikan mereka sebagai varian Hindu pada tahun 1968 dan 1980. The Parisada Hindu Dharma berubah nama menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia pada tahun 1984, sebagai pengakuan atas pengaruh nasional dipelopori oleh Gedong Bagus Oka .
Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik. Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan istana dan feodal). Proses akulturasi kebudayan India dan Indonesia berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses:
a. Proses peniruan (imitasi)
b. Proses Penyesuaian (adaptasi)
c. Proses Penguasaan (kreasi)
Seni Arsitektrur
System pembuatan dan teknik-teknik yang merupakan warisan dari zaman prasejarah yang digunakan untuk pemujaan terhadap nenek moyang pada zaman prasejarah menjadi pondasi yang kuat pada perkembangan seni rupa bangunan klasik Indonesia.
Bangunan Candi
Salah satu bangunan sacral pada zaman klasik adalah candi. Candi berasala dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Dugra). Karenanya candi selalu dihubungkan dengan mnumen untuk memuliakan Raja yang meninggal contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati. Candi digunakan sebagai tempat pemujaan.
Perkembangannya dimulai dari bentuk-bentuk yang hanya menggunakan satu buah pintu. Candi Cangkuang di Jawa Barat adalah candi yang paling sederhana bentuknya dan merupakan candi tertua di Jawa yang merupakan jenis Candi Siwa.
Perkembangan selanjutnya dari bentuk Candi Siwa adalah adanya tambahan-tambahan dalam candi tersebut, seperti penambahan bangunan penampil dan relief-relief sebagai hiasan dengan motif-motif yang semakin kaya.
Pada abad ke 9 muncul bangunan candi untuk agama Budha dengan bentuk yang monumental dan kesannya yang megah. Berikut ni bentuk bangunan candi yang ada di Jawa Tengah.
1. Periode Sajaya
Semuaya bersifat Hindu dan dibangun di daerah pegunungan. Diantaranya kompleks candi Dieng ada 8 buah candi yang beraliran Siwais. Pada periode ini dibangun pula kompleks candi Gedong Songo yang terdiri dari 9 buah, candi Selagriya, candi Pringapus.
2. Periode Syailendra
• Candi Kalasan, dibangun sebagai candi monumen
• Candi Sari, dibangun sebagai candi bihara
• Candi Pawon, dibangun sebagai candi perbekalan
• Candi Mendut, dibangun sebagai candi monumen
• Candi Borobudur, dibangun sebagai candi Stupa
Kelimanya bersifat Budha
3. Periode Mataram Tua
• Kompleks candi Loro Jongrang, bersifat Hindu Siwa
• Kompleks candi Polosan, bersifat Budhis
• Kompleks candi Sewu, bersifat Budhis
Struktur Candi
Candi memiliki tiga bagian,
1. Bagian Kaki
Mempunyai bagian yang luas dibanding dengan ukuran bagian tubuh dan atapnya.
2. Bagian Tubuh
Diletakan diatas bagian kaki, bagian dalamnya terdapat sebuah kamar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan arca. Dalam perkembangannya mengalami penambahan kamar menjadi lima kamar. Dan yang empat diletakan mengelilingi kamar utama.
3. Atap Candi
Merupakan bentuk limas yang ditutupi oleh mahkota. Jenis-jenis mahkota antara lain,
o Mahkota Lingga
o Mahkota Ratna
o Mahkota Stupa
o Mahkota Amalaka
Ada dua system dalam pengelempokan candi, yaitu:
- Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada di tengah-tengah anak-anak candi, contohnya kelompok candi lorojongrang dan prambanan
- System membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk candi berada di belakang anak-anak candi, contohnya candi penataran
Seni Hias Hindu Budha
Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa
Oleh sebab itu Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk azaib. Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Hiasan Arsitektural
ialah hiasan bersifat 3 dimensional yang membentuk struktur bangunan candi, contohnya:
- Hiasan mahkota pada atap candi
- Hisana menara sudut pada setiap candi
- Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu
- Hiasan makara, simbar filaster,dll
b. Hiasan Bidang
Adalah hiasan yang biasanya diterapkan pada bidang candi, diantaranya adalah hiasan yang hiasan yang mengambarkan adegan ceritera. Cara penggambarannya ada yang dikerjakan secara :
• Bersambung
• Cara putus-putus dengan diselingi motif lain
Gaya penggambaran dalam ceritera tersebut ada yang bergaya stilasi/dekoratif seperti hiasan candi di Jawa Timur. Dan ada juga yang bergaya realistis yang dipakai di candi Jawa Tengah.
Ceritera yang biasa digunakan sebagai hiasan antara lain :
• Ceritera Ramayana, dapat ditemukan di relief candi Loro Jongrang dan candi induk Panataran
• Ceritera Kresnayana, dapat ditemukan pada relief Candi Loro Jongrangl
• Ceritera Riwayat Sang Budha, terdapat di relief Candi Borobudur
• Ceritera Aruna Wiwaha, terdapat di relief candi Jalatunda
• Ceritera Panji, terdapat pada releif candi Jago
Selan itu terdapat pula hiasan lain seperti :
- Hiasan flora dan fauna
- Hiasan pola geometris
- Hiasan makhluk khayangan
Diantara sekian banyak candi di Indonesia yang paling menonjol adalah candi Borobudur. Candi itu sangat terkenal karena memiliki bangunan yang megah dan monumental serta memiliki nilaki spiritual yang tinggi. Bentuk yang ada pada candi Borobudur adalah bentuk yang melambangkan ajaran agama Budha yang tersusun dari bawah ke atas, antara lain, yaitu:
Kama Datu : menggambarkan siksaan-siksaan manusia
Rupa Datu : sudah tidak dipengaruhi oleh kejahatan tapi masih dipengaruhi oleh materi
Arupa Datu : tidak ada pengaruh luar
Pengaruh kesenian Gupta sangat terasa pula pada bentuk relief-reliefnya, yang mempunyai corak realism, sedangkan tradisi Indonesia yan masuk dalam relief tersebut berupa bentuk-bentuk bangunan dengan gayanya yang khas.
Sifat dinamis dari relief itu Nampak pada bagian Kama Datu yang mengungkapan kehidupan yang penuh dengan keahatan dan hawa nafsu. Sedangkan pada relief Rupa Datu dimulai dari sifat yang hidup, kemudian makin ke atas makin tenang.
Sebelm perpindahan pusat kebudayaan, yaitu sekitar abad ke 11, di Jawa Tengah sempat mendirkan sebuah candi yang keagungannya tidak kalah dengan candi Borobudur, yaitu Candi Prambanan.
Bentuk candi Prambanan tersebut tinggi langsing setinggi 47 meter dan dikenal pula dengan sebutan Lara Jonrang. Merupakan campuran gaya Budhis dan Siwaisserta unsure-nsur lain yang merupakan gaya khas Jawa Timur.
Pengaruh Budha pada candi tersebut nampak pada :
Hiasan “motif Prambanan” yang terdiri dari relung kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Hiasan pagar langkah dan atap yang berupa ratna yang berbentuk stupika penghias candi Budha
Arca penaga mata angin (loka pala) bentuknya mirip dengan arca Bodhisatwa.
Perpindahan pusat kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur menibulkan banyak perubahan seni pada waktu itu. Dasar-dasar perubahan tersebut antara lain :
Latar belaka politik
Jawa Timur menekankan pada politik perluasan daerah. Akibatnya banyak masuk kesenian asing seperti esenian Cina dan Campa..
Latar belakang kebudayaan
Bercampurnya keudayaan yang hidup dikalangan istana dan rakyat biasa
Pengaruh kesenian India semakin berkurang
Karena semakin berperannya kesenian tradisi Indonesia asli (akulturasi Indnesia Hindu)
Adanya bahan baru yang ditemukan untuk pembuatan seni bangunan
Singkretsme agama Budha, Hindu dan kepercayaan daerah asli Indonesia
Seni Rupa Hindu Periode Jawa Timur
Jaman Peralihan (Erlangga)
Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda – tanda gaya seni jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga
Jaman Singasari
Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal, dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.
Jaman Majapahit
Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll
Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan gaya klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga dikelan patung realistic dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruh darin Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada
Seni patung Hindu Budha (Arca)
Patung dalam agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti: Dewa Brahma Wisnu dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut keDewaan (laksana/ciri), misalnya patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraanhya (wahana) hangsa). Sedangkan pada patung wisnu laksananya adalah para mahkotanya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraannya lembu, (nadi) dsb
Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda – tanda kesucian, yaitu:
- Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)
- Diantara keningnya terdapat titik (urna)
- Telinganya panjang (lamba-karnapasa)
- Terdapat juga kerutan di leher
- Memakai jubah sanghati
lenkapnya mengenai perkembangan arca sebagai berikut:
- Abad ke 8-9, seni arca Jawa tengah berpusat di Dieng. Bentuknya merupakan pengabungan antara manusia dengan hewan.
- Abad ke 9-10, berusat di awa Tengah bagian Selatan. Bentuknya bersifat Budhis
- Abad ke 10-11, timbl arca-arca Wisnu yang mengendarai garuda. Proporsi Indonesia sudah diterapkan
- Abad ke 13 seni arca Jawa imur mencapai puncak kejayaan pada masa Singosari. Paenggambaran proporsi Indonesia sudah betul-betul menonol.
- Pada masa Majapahit awal, arca sudah menggunakan raut muka Indonesia.
- Arca Majapahit akhir, arca raut muka arca nampak adanya pengaruh dari Cina, bersumping yaitu hiasan yang ditempel pada telina.
- Arca-arca logam, contoh : arca Budha dan wajrapani yan terbuat dari emas ditemukan di Demak, arca perak dtemukan di Semarang, Arca perunggu ditemukan di Sulawesi Barat.
Seni kerajinan
i. Dari bahan tanah liat, seperti gerabah-gerabah, kendi, guci dan bentuk-bentuk lain sebagai barang rumah tangga.
ii. Bahan perunggu, seperti lampu, gayung, mangkuk, sendok cermin dan tempat-tempat parfum. Untuk upacara menunakan genta yang bearhiaskan cakra, dll.
iii. Bahan logam mulia, seperti kotak perhiasan, bandul kalung yang diberi hiasan batu angkik. Sebagai peralatan upacara diunakan lempengan emas yang dberi motif binatang
Bangunan Profal
Bentuk-bentuk bangun profal sudah banyak dibangun ada massa klasik, hanya sayan peningalannya tidak selengkap banunan sacral. Diantaranya ialah saluran air, istana-istana yang sebaian besar hanya puing-puingnya saja.
TUGAS MAKALAH
ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN KEINDAHAN
Kelompok
Ø Deni iskandar
Ø Yogi setiana
Ø M.adam
Ø Dicki Prima
Ø Richi Arttha.B
Ø M. Aditya
Manusia dan keindahan
STIE PASUNDAN
Bandung
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
· LATAR BELAKANG
BAB II MANUSIA DAN KEGELISAHAN
· ISI
BAB III PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MANUSIA DAN KEGELISAHAN
1. HAKEKAT MANUSIA
2. PENGERTIAN KEGELISAHAN
B. SEBAB – SEBAB ORANG GELISAH
C. KETERASINGAN
D. KESEPIAN
E. KETIDAKPASTIAN
1. SEBAB – SEBAB TERJADINYA KETIDAKPASTIAN
2. USAHA – USAHA PENYEMBUHAN KETIDAKPASTIAN
F. CARA - CARA MENGATASI KEGELISAHAN
G. MANUSIA DAN KEGELISAHAN
BAB IV PENUTUP
· KESIMPULAN
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan ini setiap manusia mempunyai harapan- harapan dan setiap manusia mempunyai hak untuk itu, tidak seorang pun dapat menghalanginya. Untuk mencapai harapan- harapan itu manusia berusaha, yang mungkin usaha itu dengan mengorbankan apa saja dengan kata lain manusia berusaha dengan sekuat tenaga, setelah berusaha maka orang- orang akan gelisah menunggu dan menanti bagaimana hasil usaha mereka, sesuaikah dengan apa yang mereka korbankan, berhasilkah atau mereka harus kecewa karena gagal.
Sering sekali dalam menunggu hasil- hasil dari usaha mereka, mereka tidak sabar, hati mereka tidak tentram, tidak damai dan lain sebagainya sampai- sampai mereka jarang menggunakan akal sehatnya. Untuk itu di sini kami akan mencoba memberi uraian mengapa kita gelisah, mengapa kitamerasa khawatir, mereka tidak tentram dan hati kita berdebar dalam menunggu di samping itu pula akan diuraikan mengapa dan apa penyebabnya kita merasa demikian serta bagaimana cara menanggulangi kegelisahan dan kekhawatiran yang kita alami. Di sini kami mencoba memberikan gambaran cara pemecahan rasa gelisah yang mungkin dialami, sebab sering kali orang yang mengalami kegelisahan menanggulangi atau menyalurkan dengan hal- hal yang bersifat negatif. Sudah tentu cara- cara ini tidak benar, hal ini terjadi karna dalam pemecahan masalah ini mereka tidak menggunakan akal sehat, dengan kata lain emosi dan rasio mereka tidak stabil lagi dan kadang- kadang malah emosi mereka lebih menonjol sehingga tindakan- tindakan mereka tidak terkontrol. Disamping itu juga kegelisahan dan kekhawatiran ini di alami oleh setiap orang hidup yang mempunyai harapan.
BAB II
MANUSIA DAN KEGELISAHAN
Dalam materi pembahasan tentang Manusia dan kegelisahan, ada beberapa hal-hal yang akan dibahas, dimana setiap pointnya mempunyai keterkaitan yang saling berhubungan, diantaranya adalah sebagai berikut :
A. PENGERTIAN MANUSIA DAN KEGELISAHAN
1. HAKEKAT MANUSIA
2. PENGERTIAN KEGELISAHAN
B. SEBAB – SEBAB ORANG GELISAH
C. KETERASINGAN
D. KESEPIAN
E. KETIDAKPASTIAN
1. SEBAB – SEBAB TERJADINYA KETIDAKPASTIAN
2. USAHA – USAHA PENYEMBUHAN KETIDAKPASTIAN
F. CARA - CARA MENGATASI KEGELISAHAN
G. MANUSIA DAN KEGELISAHAN
Dari pembahasan Materi tentang Manusia dan kegelisahan diatas, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang kegelisahan, keterasingan, kesepian, ketidakpastian dan cara – cara mengatasi kegelisahan serta kaitannya dengan manusia didalam kehidupan sehari-hari.
BAB III
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MANUSIA DAN KEGELISAHAN
Pengertian manusia adalah makhluk hidup yang memiliki akal, daya, rasa, serta cipta.
1. HAKEKAT MANUSIA
Berbicara tentang manusia maka satu pertanyaan klasik yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang memuaskan adalah pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Banyak teori telah dikemukakan, di antaranya adalah pemikiran dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan teologis.
Aliran materialisme mempunyai pemikiran bahwa materi atau zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh proses-proses material ini. Sedangkan aliran idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Aliran realisme klasik beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian, dan aliran teologis membedakan manusia dari makhluk lain karena hubungannya dengan Tuhan.
Sementara yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuan manusia dalam hal pengetahuan dan perasaan. Pengetahuan manusia jauh lebih berkembang daripada pengetahuan makhluk lainnya, sementara melalui perasaan manusia mengembangkan eksistensi kemanusiaannya.
Hakekat Manusia :
a) Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
b) Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.
c) Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi.
d) Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
2. PENGERTIAN KEGELISAHAN
kegelisahan berasal dari kata gelisah,yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya jalan mondar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukan kepala, memandang jauh ke depan sambil mengepal-ngepalkan tangannya, duduk termenung sambil memegang kepalanya, duduk dengan wajah murung atau sayu, malas bicara, dan lain-lain.
Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi dari kecemasan. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak tercapai.
Ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu :
a) Kecemasan Obyektif
Pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau bahaya dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat dengan benda-benda atau keadaan tertentu dari lingkungannya.
b) Kecemasan Neorotis ( syaraf )
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Menurut Sigmund Freud, kecemasan ini dibagi tiga macam, yakni:
1. Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, dan orang itu takut akan bayangannya sendiri, atau takut akan id-nya sendiri, sehingga menekan dan menguasai ego.
2. Bentuk ketakutan yang tegang dan irrasional (phobia). Bentuk khusus dari phobia adalah intensitet ketakutan melebihi proporsi yang sebenarnya dari obyek yang ditakutkannya.
3. Rasa takut lain ialah rasa gugup, gagap dan sebagainya. Reaksi ini munculnya secara tiba-tiba tanpa ada provokasi yang tegas. Reaksi gugup ini adalah perbuatan meredakan diri yang bertujuan untuk membebaskan seseorang dari kecemasan neorotis yang sangat menyakitkan dengan melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh id, meskipun ego dan superego melarangnya.
c) Kecemasan Moril
Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi, antara lain iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, cinta, dan rasa kurang. Rasa iri, benci, dengki, dendam merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat. Oleh karena itu, sering alasan untuk iri, benci, dengki itu kurang dapat dipahami orang lain. Sifat-sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji, bahkan mengakibatkan manusia akan merasa khawatir, takut, cemas, gelisah, dan putus asa.
B. SEBAB – SEBAB MANUSIA GELISAH
Sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.
Contoh : bila ada suatu tanda bahasa (bahasa banjir, gunung meletus, perampokan), orang tentu akan gelisah. Hal itu disebabkan karena bahaya itu mengancam akan hilangnya beberapa hak orang sekaligus, misalnya hak hidup , hak milik,hak memperoleh perlindungan, hak kemerdekaan hidup dan mungkin hak nama baik.
C. KETERASINGAN
Keterasingan berasal dari kata terasing dan kata itu adalah kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain atau terpencil. Jadi kata keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan , terpencil atau terpisah dari yang lain.
Terasing atau ketersaingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.
Yang menyebabkan orang berbeda dalam keterasingan itu ialah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat, atau kekurangan yang ada pada diri seseorang sehingga ia tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat.
Sumber-sumber dari keterasingan:
~ Perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat
contoh: mencuri, angkuh, keras kepala,dll
~ Sikap rendah diri, merasa tidak berharga karena cacat fisik, pendidikan rendah dan sebagainya.
D. KESEPIAN
Kesepian Berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau lengang, sehingga kata kesepian berarti merasa sunyi atau lengang, tidak berteman. Setiap orang pernah mengalami kesepian karena kesepian merupakan bagian hidup manusia, lama rasa sepi itu brgantung pada mental orang dan kasus penyebabnya.
Sebab-sebab terjadinya kesepian
Perasaan sepi singgah dihati manusia tergantung dari masalah yang menimpa jiwa orang yang mengalaminya. Orang yang mengasingkan dirinya sehingga terjadi kesepian mungkin karena kesombonganya atau sikap rendah dirinya.
Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Salah satunya Frustasi yang dapat mengakibatkan kesepian. Dalam hal seperti itu manusia tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri. Orang yang frustasi itu bersikap rendah diri, sengaja menjauhi pergaulan ramai. Orang yang bersikap rendah diri, pemalu, minder, merasa dirinya kurang berharga dibanding orang lain, maka orang itu lebih suka menyendiri. Karena menyendiri itu mengakibatkan kesepian.
Jadi, kesepian itu akibat dari keterasingan. Keterasingan akibat sikap sombong,angkuh, kaku,keras kepala sehingga dijauhi teman-teman sepergaulannya. Karena teman-teman menjahui. maka orang yanng bersikap sombong itu hidup terasing, terpencil dari keramaian hidup sehingga kesepian.
E. KETIDAKPASTIAN
ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas . Ketidakpastian artinya keadaan yang tidak pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak ada konsentrasi . Ketidak konsentrasian yang menyebabkan pikirannya kacau.
A. KEHALUSAN
Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan dan atau keadaban. Halus bagi manusia iu sendiri ialah berupa sikap, yakni sikap halus. Sikap halus adalah sikap lembut dalam menghadapi orang. Lembut dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya. Halus itu berarti sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku sikap orang yang sedang bermusuhan.
Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih terhadap sesama. Sebab itu orang yang bersikap halus atau lembut biasanya suka memperhatikan kepentingan orang lain, dan suka menolong orang lain. Sikap lembut merupakan perwujudan pula dari sifat-sifat ramah, sopan, sederhana dalam pergaulan.Sikap halus juga dimiliki orang yang bersikap rendah hati. Karena orang yang bersikap rendah hati adalah orang yang halus tutur bahasanya, sopan tingkah lakunya, tidak sombong, tidak membedakan pangkat dan derajat dalam pergaulan.
Kehalusan atau kelembutan atau sebaliknya kekerasan itu yang menilai orang lain, orang yang dihadapi atau orang yang menyaksikan. Sudah tentu yang dinilai adalah gerak laku, roman muka, tutur bahasa, dan sebagainya. Angota badan yang melahirkan sikap kehalusan itu ialah Kaki, Tangan, Kepala, Mulut, Bibir, Mata, Bahu. Selain itu roman muka, perkataan, pemilihan kata, penyusunan kalimat dan irama bahasa juga dapat dinilai halus dan tidaknya. Bagian Rohaniah yang melahirkan sikap : Kemauan, Perasaan dan Pikiran atau Karsa, Rasa dan Cipta. Tiga unsur Rohaniah ini saling berkaitan, saling mempengaruhi dan mewujudkan tingkah laku, tutur bahasa, perbuatan yang semuanya itu dapat dinilai kehalusan dan kekasarannya.
Karya seni adalah hasil ciptaan manusia yang mempunyai nilai-nilai tertentu. Nilai itu antara lain, Nilai Inderawi, Nilai Bentuk, Nilai Pengetahuan, dan Nilai Ide, temu dan dalil-dalil keadilan. Nilai-nilai itu terwujud dalam bentuk lahir yang dapat dinikmati oleh indera kita (Mata, Telinga), sehingga memuaskan hati kita.
Hasil seni sangat berpengaruh terhadap jiwa dan perbuatan manusia. Banyak orang yang menangis karena seni (Seni Drama Film, Seni Suara), tanpa disadari banyak orang melenggang-lenggang karena irama musik. Banyak orang merasa tentram, damai, dan bahagia mendengarkan lagu-lagu yang tenang menghanyutkan.
F.MANUSIA DAN KEINDAHAN
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “ kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak dan keinginan pada hewan bersumber dari naluri. Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak dan keinginan manusia itu pun bersifat demiikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni, untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain adalah sesuatu yang “ Baik”, yang “ Indah”. Maka “ Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana keindahan itu peraasaan “( ke)-manusia-(annya)” tidak terganggu.
Keindahan yang bersifat jasmani ialah keindahan yang dapat “menyenangkan” atau “memuaskan“ indera manusia; baik indera penglihatan maupun indera pendengaran.
Keindahan yang bersifat rohani ialah keindahan yang dapat “menyenangkan” atau “memuaskan“ batin manusia.
Tetapi perlu segera dipahami bahwa walaupun secara material keduanya dapat dibedakan, secara Esensial keduanya tidak dapat dipisahkan; karena pada akhirnya “Unsur kemanusiaan” itulah yang harus menjadi penentunya. Kodrat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baik, yang dapat menyempurnakan kemanusiaannya. Disadari atau tidak setiap manusia tidak senang terhadap sesuatu yang jorok, yang tidak baik, dan yang merendahkan martabatnya. Karena itu “ Keindahan” bagi manusia sebenarnya bukan sekedar sesuatu yang menjadi “harapannya“ melainkan merupakan sesuatu yang “harus
diusahakan adanya”.
Salah satu definisi yang paling dikenal adalah hasil pemikiran penyair romantik Inggris, John Keats. Dibukunya yang ditulis tahun 1817, Endymion, terapat definisi tentang Keindahan semacam ini :
“ A thing of beauty is a joy forever : It’s loveliness increases; it will never pass into nothingness”.
“Sesuatu yang indah adalah kegembiraan selama-lamanya : Kemolekannya
bertambah, dan takkan pernah menuju ketiadaan”.
Persepsi manusia terhadap keindahan antara yang satu dengan yang lain itu tidak sama. Sebab persepsi manusia terhadap keindahan sangat ditentukan oleh daya penggerak yang menjadi sumber kehendak atau keinginan terhadap keindahan itu sendiri. Persepsi keindahan yang muncul dari akal dan budi dapatlah disebut keindahan alam arti yang sebenarnya; sedangkan keindahan yang muncul dalam dorongan nafsu merupakan Keindahan Semu. Keindahan seperti itu tentu saja tidak akan diterima oleh “ Kemanusiaan” manusia, yaitu akal dan budi, karena keindahan seperti itu bukannya untuk menyempurnakan “ Kemanusiaan manusia”, melainkan sebaliknya.
KESIMPULAN
Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya, keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan.
Keindahan Dalam Arti Estetika Murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
Merenung artinya secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian dengan mendalam. Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal.
Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasiartinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang.
Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan dan atau keadaban.
“ Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena
dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana
keindahan itu peraasaan “( ke)-manusia-(annya)” tidak terganggu.
Keindahan sejati berpancar ketika seseorang menjadikan hati nurani yang cemerlang sebagai penguasa atas jasmaninya. Hati nurani mengendalikan setiap ucap kata, setiap tindak perbuatan, setiap niat dan pikiran. Bahkan pada setiap kerutan dahi dan senyuman; ataupun saat kita berbicara, diam, bergerak, duduk, atau berbaring; saat bekerja, baik di saat aktif maupun passif, saat mengantar atau menjemput tamu. Jika sikap kita terhadap orang lain—kapan dan di manapun, baik dalam urusan pribadi maupun kepentingan umum—senantiasa berada di bawah kesadaran nurani, inilah manifestasi keindahan alam. Singkatnya, keindahan kodrati manusia adalah keindahan dari pribadi Maitreyani, Keindahan Ilahi, Keindahan kasih, Keindahan hati nurani, adalah keindahan dari jiwa yang wajar dan asali. Keindahan kodrati manusia terlihat dari bagaimana sikap kita dalam menggunakan mata untuk melihat, terlihat dari bagaimana sikap kita saat menggunakan telinga untuk mendengar, terlihat dari kata-kata yang keluar dari mulut kita, terus berkembang dan menyebar melalui setiap tindak perbuatan yang kita lakukan, terlihat dalam setiap benak dan pikiran kita, dan juga terlihat dari bagaimana kita menggunakan hidung untuk membaui dan mulut untuk mengecap makanan. Indahnya langit, bumi, laksa makhluk, dan sejuta benda begitu menggugah, begitu memikat dan mengundang kerinduan. Semua ini adalah karena langit, bumi, dan laksa makhluk tidak mementingkan diri sendiri, tiada ego, tak pernah menganggap dirinya telah berjasa bagi umat manusia. Mereka tak menuntut bayaran, tak mengharapkan balas jasa, bahkan tak ingin dikenal, namun selamanya memberi dan menyumbang dalam keheningan, tanpa keakuan. Demikian pula dengan keindahan kodrati manusia yang begitu menggugah, begitu memikat, membangkitkan kekaguman dan ketulusan dalam hati, karena keindahan kodrati manusia sejalan dengan keindahan langit-bumi dan laksa makhluk. Kegagalan mewujudkan keindahan kodrati telah mengakibatkan terbentuknya konsep hidup, kehidupan dan gaya hidup yang keliru, yang kemudian melahirkan konsep beragama yang ekstrim, konsep seni dan estetika yang menyimpang. Kesalahan terbesar dalam kehidupan manusia adalah terjebak dalam kurungan dua tembok baja konsep dualisme dunia, dan seumur hidup tak mampu melepaskan diri darinya. Dua tembok baja dualisme ini telah mengakibatkan terbelenggunya kehidupan, pola pandang, serta daya estetika manusia. Manusia tak berdaya, tak dapat berkutik di dalamnya, selamanya terkungkung tanpa pernah bebas! Perjalanan hidup manusia ke depan pun hanya menjanjikan jeritan dan rintihan. Kapan manusia bisa terbebas dari tembok dualisme dan jurang perbedaan yang dalam ini? Buddha Maitreya telah menjadi teladan sempurna dalam mewujudkan keindahan kodrati manusia dalam dirinya. Beliau sungguh menyadari bahwa hanya dengan mewujudkan keindahan kodratinya, barulah seorang manusia bisa mendapatkan kebahagiaan, sukacita, dan hidup yang sempurna, tidak lagi menderita dan terbelenggu oleh perangkap dualisme. Karena terbebas dari segala belenggu konsep dualisme dunia, maka langit, bumi, dan laksa makhluk mampu menampilkan keindahan kodratinya. Tak ada dualisme bagi langit, bumi, dan laksa makhluk, karena itu langit, bumi, dan laksa makhluk bebas leluasa tidak terikat. Hina-mulia, mendapat-kehilangan, pujian-cemoohan, penghargaan-fitnahan, mujur-malang, untung-rugi, lancar-penuh rintangan, sukses-gagal, kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-jelek, tinggi-rendah, kalah-menang, berhasil-putus asa, keras-lembut, baik-buruk, dan lainnya, adalah perangkap dualisme dunia. Dualisme telah menjadi sumber penyebab duka sekaligus halangan yang terbesar dalam hidup manusia. Dari dulu hingga kini, noda hitam tanpa obat penawar, sekaligus kesalahan yang paling sukar ditebus dalam kehidupan manusia adalah bahwa manusia menjadikan kondisi dualis ini sebagai segala-galanya dalam hidup mereka! Buddha Maitreya mengajarkan bahwa semua dualisme dunia hanyalah suatu proses dalam menjalani kehidupan, sama sekali bukan tujuan dari kehidupan itu sendiri. Sesungguhnya dualisme bukanlah hal yang utama, melainkan hanyalah kondisi pendukung dalam proses memwujudkan cahaya kehidupan. Dualisme dunia hanyalah pernak-pernik kehidupan, bukan intisari dari hidup itu sendiri. Jika kita terjerumus dalam perbedaan hina-mulia, mendapatkan-kehilangan, untung-rugi, keberuntungan-kemalangan, miskin-kaya, dan dualisme lainnya, maka kita akan hidup dalam penderitaan, menghadapi nasib hidup yang tragis, hidup kita akan penuh dengan pertikaian serta perebutan kepentingan. Harkat dan martabat yang paling mulia dalam diri seorang manusia terletak pada kecemerlangan Nurani. Yaitu saat manusia mampu mewujudkan panggilan nurani, memancarkan keindahan kodrati dirinya untuk menguntungkan dan mendatangkan kebahagian bagi seluruh dunia, bagi seluruh umat manusia, untuk tanah air tercinta, dan bagi lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, nilai hidup menjadi hina dan nista apabila hati nurani tidak berpancar cemerlang. Segala prilaku kita dapat membahayakan keselamatan dunia, merusak stabilitas negara, mendatangkan malapetaka dan kerusakan pada lingkungan sekitar, dan melukai sesama umat manusia. Terlebih, apabila kita tidak memancarkan kecemerlangan Nurani, tak mampu menampilkan keindahan kodrati sebagai seorang manusia, namun senantiasa dimuliakan dan mendapatkan pujian, ini adalah suatu kekotoran terbesar dalam kehidupan manusia.
